Selasa, 06 Agustus 2013

"Orang yang beriman itu berkata: 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki mahupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk syurga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.'" (QS. al-Mu'min: 38-40)

Akhirnya, keimanan lelaki mukmin itu pun tersingkap. Ia diketahui sebagai seorang mukmin yang tidak lagi menyembunyikan keimanannya. Pada akhir pembicaraannya, ia menegaskan:

"Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Mengapa) kamu menyeruku kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak aku ketahui padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahawa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun baik di dunia mahupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan mengingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (QS. al-Mu'min: 41-44)

Lelaki mukmin itu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata yang berani ini. Kami kira, Allah s.w.t telah mengirim lelaki mukmin ini dari kalangan Fir'aun agar Fir'aun melupakan Musa. Konteks Al-Quran menyingkap bahawa lelaki ini merupakan salah seorang intelektual Mesir yang mengetahui sejarah dan mampu menganalisis serta memiliki kemampuan untuk menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sehingga ia mengetahui sebab-sebab dan akhir dari suatu peristiwa.

Orang yang beriman itu mampu menggiring akal mereka menuju kebenaran. Fir'aun tersibukkan dengan lelaki mukmin ini hingga beberapa saat ia lupa untuk memikirkan Musa. Lelaki mukmin itu berasal dari keluarga Fir'aun. Ia adalah kerabat dekatnya dan salah seorang pejabat negaranya. Keimanannya terhadap kebenaran menjadikan istana Fir'aun terbagi menjadi dua kubu: kubu pro Musa dan kubu anti Musa. Ini bererti kemenangan yang besar bagi Musa. kerana itu, membunuh lelaki mukmin itu akan mengganggu atau menggoyangkan keberadaan cendekiawan Mesir di mana ia adalah salah seorang dari mereka.

Demikianlah, Fir'aun menghadapi masalah yang rasa-rasanya sulit atau mustahil untuk terpecahkan. Membunuh lelaki mukmin itu tidak akan memberikan dampak yang baik, begitu juga membiarkannya hidup juga tidak memberikan dampak yang baik. Akhirnya, mereka membikin suatu konspirasi untuk menyingkirkannya. Kemudian di sinilah bimbingan Allah s.w.t diturunkan:

"Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." (QS. al-Mu'min: 45)

Untuk beberapa saat, Fir'aun disibukkan dengan masalah baru ini, tetapi Fir'aun adalah Fir'aun. Ia tetap memakai busana kesombongannya; ia tetap menyeksa Bani Israil, menghina mereka dan menodai kehormatan wanita-wanita serta membunuh anak-anak. Akhirnya, tibalah waktunya bagi Allah s.w.t untuk bersikap keras kepada keluarga Fir'aun. Allah s.w.t menurunkan bencana kepada mereka dan menakut-nakuti mereka dengan azab sehingga mereka mengurungkan niat untuk menghancurkan Musa dan laki-laki mukmin itu, dan sebagai pembuktian atas kebenaran kenabian Musa. Allah s.w.t menurunkan tahun-tahun yang kering dan tandus kepada orang-orang Mesir di mana bumi tampak kering kontang dan sungai Nil pun mengering hingga buah-buahan jarang sekali ditemukan dan harga semakin mencekik leher. Akibatnya, kelaparan melanda di sana-sini. Dalam keadaan demikian, orang-orang Mesir menganggap bahawa kehidupan mereka terancam. Adalah hal yang maklum bahawa seksa yang seperti ini akan selalu menimpa manusia ketika mereka berpaling dari keimanan dan takwa.

Allah s.w.t berfirman:

"Jikalau sekitarnya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami seksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. al-A'raf: 96)

Hukum yang lama diperlakukan atas penduduk Mesir kerana dua sebab: pertama, sikap dingin mereka terhadap pembunuhan yang dilakukan Fir'aun kepada para tukang sihir, kedua, sikap dingin mereka terhadap kelaliman penguasa mereka. Aneh sekali ketika kaum Fir'aun mengembalikan masa paceklik ini dan musibah kelaparan ini pada suatu sebab yang sangat menghairankan. Mereka mengatakan bahawa apa yang menimpa mereka kerana kesialan yang dibawa oleh Musa. Kelaparan yang melanda mereka, kefakiran, dan kekurangan buah-buahan yang mereka rasakan saat ini adalah disebabkan oleh adanya Musa di tengah-tengah mereka.

Kemudian kefakiran mereka semakin meningkat dan mereka semakin menjauh dari kebenaran. Mereka meyakini bahawa sihir Musa adalah yang bertanggungjawab terhadap apa yang menimpa mereka pada musim paceklik ini. Mereka mengira dengan kebodohan mereka bahawa kekeringan yang melanda negeri mereka adalah sebagai alat atau kekuatan yang digunakan oleh Musa untuk menyihir mereka. Namun perlu diperhatikan bahawa pemikiran demikian tidak mewakili pemikiran umumnya masyarakat saat itu, tetapi pemikiran ini datang dan dihembuskan oleh kelompok-kelompok yang berkuasa. Akhirnya, Allah s.w.t menurunkan azab yang lebih keras kepada mereka. Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: 'Ini adalah kerana (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan neraka tidak mengetahuinya. Mereka berkata: 'Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu maka, kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.' Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. (QS. al-A'raf: 130-133)

Allah s.w.t mengirimkan berbagai macam azab dengan harapan agar mereka kembali kepada Allah s.w.t dan melepaskan Bani Israil serta membiarkan mereka pergi bersama Musa. Allah s.w.t mengirim taufan kepada mereka. Setelah masa paceklik, datanglah tahun yang penuh dengan air sehingga bumi pun tenggelam dengan air sehingga mereka tidak dapat bercucuk tanam. Setelah mereka diseksa dengan sedikitnya air maka kali ini mereka mendapatkan limpahan air yang luar biasa. Mereka segera datang kepada Nabi Musa sambil berkata:

"Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata: 'Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.'" (QS. al-A'raf: 134)

Kemudian Nabi Musa berdoa kepada Tuhannya sehingga azab disingkirkan dari mereka. Air yang memancar dengan dahsyat itu berhenti dan bumi kembali mengambil air yang cukup sehingga layak untuk dibuat bercucuk tanam. Nabi Musa meminta kepada mereka untuk mewujudkan janji mereka, yaitu melepaskan tawanan Bani Israil. Tapi mereka tidak memenuhinya. Kemudian datanglah tanda kebesaran yang lain yaitu dalam bentuk turunnya belalang. Allah s.w.t mengirim sekawanan belalang yang memenuhi tanaman dan buah-buahan. Ketika belalang- belalang itu terbang maka tanaman-tanaman mereka dan buah-buahan mereka tersembunyi dari pandangan kerana saking banyaknya belalang- belalang itu. Belalang itu memakan makanan orang-orang Mesir.

Melihat keadaan demikian, mereka pun pergi ke Musa dan meminta kepadanya agar berdoa kepada Tuhannya agar menyingkirkan seksaan ini dari mereka dan mereka berjanji untuk melepaskan padanya Bani Israil. Nabi Musa pun lagi-lagi berdoa kepada Tuhannya sehingga Allah s.w.t menyingkirkan azab itu dari mereka. Dan belalang-belalang itu kembali ke tempat asalnya. Mereka dapat menanami kembali bumi dengan baik. Lalu Nabi Musa meminta kepada mereka untuk melepaskan Bani Israil namun mereka menunda-nundanya sehingga Nabi Musa mengetahui bahawa sebenarnya mereka tidak serius untuk memenuhi janji mereka.

Kemudian datanglah seksaan Allah s.w.t yang lain, yaitu dikirim-Nya berbagai macam hama. Tersebarlah hama yang membawa penyakit. Lagi- lagi mereka datang kepada Nabi Musa dan mengulangi janji mereka dan Nabi Musa pun berdoa kepada Allah s.w.t. Kali ini mereka pun tetap mengingkari janji mereka. Lalu datanglah seksaan Allah s.w.t yang lain dalam bentuk dikirim-Nya katak di mana bumi dipenuhi dengan katak. Katak itu melompat-lompat ke sana-sini dan memenuhi makanan orang- orang Mesir serta berada di rumah mereka sehingga mereka sangat terganggu dengan kehadiran katak-katak liar itu. Lagi-lagi mereka menemui Nabi Musa dan kembali mengulangi janji mereka dan meminta padanya agar ia berdoa kepada Tuhannya agar Allah s.w.t menyingkirkan azab dari mereka. Tetapi mereka pun tetap mengingkari janji mereka.

Selanjutnya, Allah s.w.t menurunkan azab yang lain yaitu darah di mana sungai Nil berubah menjadi darah sehingga tidak seorang pun dapat meminumnya. Kita ketahui bahawa mukjizat-mukjizat pertama berupa sesuatu yang biasa terjadi pada tanaman. Berkurangnya air Nil atau bertambahnya air tersebut atau serangan belalang atau hama dan katak, semua ini adalah bukan hal baru bagi orang-orang Mesir. Yang baru adalah kejadian ini terjadi dengan sangat tiba-tiba dan sangat mencekam. Sedangkan mukjizat atau azab yang lain adalah azab yang tidak biasa terjadi di daerah Mesir, yaitu azab yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana air sungai Nil berubah menjadi darah.

Perubahan sungai itu menjadi darah hanya terjadi di kalangan orang- orang Mesir sedangkan Musa dan kaumnya dapat meminum airnya seperti biasanya. Namun ketika seorang Mesir memenuhi tempat gelasnya dengan air maka ia akan mendapati bahawa gelasnya penuh dengan darah. Melihat peristiwa tersebut, orang-orang Mesir tergoncang sebagaimana istana Fir'aun juga tergoncang melihat seksa yang mengerikan dan baru ini. Lagi-lagi mereka menuju ke Nabi Musa dan meminta kepadanya agar berdoa kepada Tuhannya dan mereka berjanji pada kali ini untuk membebaskan orang-orang Bani Israil. Nabi Musa pun berdoa kepada Tuhannya sehingga azab itu disingkirkan dari orang-orang Mesir. Meski demikian. istana Fir'aun tidak mengizinkan Musa untuk menemui kaumnya dan pergi bersama mereka. Lalu bagaimana sikap Fir'aun sendiri? Fir'aun tetap menunjukkan pembangkangnya dan kesombongannya. Fir'aun mengumumkan di tengah-tengah kaumnya bahawa dia tuhan. Bukankah - kata Fir'aun - dia memiliki kerajaan Mesir dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasaannya? Fir'aun memberitahu bahawa Musa adalah tukang sihir yang bohong dan ia hanya seorang fakir yang tidak mampu menggunakan satu kalung emas dan satu gelang emas.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka Musa berkata: 'Sesungguhnya aku adalah dari utusan Tuhan seru sekalian alam. Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka mengetawakannya. Dan tidakkah Kami perlihatkan kepada mereka sesuatu mukjizat kecuali mukjizat itu lebih besar dari mukjizat-mukjizat sebelumnya. Dan Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (kejalan yang benar). Dan mereka berkata: 'Hai ahli sihir berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya kami (jika doamu dikabulkan) benar-benar akan menjadi orang yang mendapat petunjuk. Maka tatkala Kami menghilangkan azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya). Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: 'Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?' Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat dijelaskan (perkataannya)? Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya.' Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya dengan (perkataannya itu) lalu mereka patuh kepadanya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (QS. az-Zukhruf: 46-54)

Perhatikanlah ungkapkan Al-Quran: Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya dengan (perkataannya itu) lalu mereka patuh kepadanya. Fir'aun memenjara akal mereka, membelenggu kebebasan mereka, dan menutup masa depan mereka yang cerah. Fir'aun menodai kemanusiaan mereka sehingga mereka mentaatinya. Bukankah ketaatan ini aneh? Namun keanehan ini hilang ketika kita mengetahui bahawa mereka adalah orang- orang yang fasik. Kefasikan menjadikan seseorang tidak peduli dengan masa depannya dan kepentingannya serta urusannya. Pada akhirnya, ia akan mendapati kehancuran. Demikianlah yang terjadi pada kaum Fir'aun.

Allah s.w.t berfirman:

"Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut), dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian." (QS. az-Zukhruf: 55-56)

Tampak jelas bahawa Fir'aun tidak beriman kepada Musa. Fir'aun tidak menghentikan usaha untuk menyeksa Bani Israil dan ia tetap merendahkan kaumnya. Maka melihat kenyataan yang demikian, Musa dan Harun berdoa buruk untuk Fir'aun:

"Musa berkata: 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya dengan perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat seksaan yang pedih.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.'" (QS. Yunus: 88-89)

Kemudian datanglah izin kepada Nabi Musa untuk meninggalkan Mesir dengan disertai oleh kaumnya yang mengikutinya. Sikap kaum Nabi Musa sangat aneh. Tidak semua kaumnya beriman kepadanya. Allah s.w.t berfirman:

"Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda- pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahawa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyeksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas." (QS. Yunus: 83)

Selesailah urusan. Allah s.w.t telah menetapkan untuk membuat suatu keputusan hukum terhadap Fir'aun. Allah s.w.t memerintahkan kepada Musa untuk keluar dan mengizinkan Bani Israil untuk pergi. Mereka bersiap-bersiap untuk keluar dan pergi bersama Musa. Mereka membawa perhiasan-perhiasan mereka lalu datanglah malam kepada mereka. Nabi Musa berjalan bersama mereka dan menyeberangi Laut Merah dan menuju ke negeri Syam. Sementara itu, utusan Fir'aun dan intelejennya bergerak. Sampailah berita kepada Fir'aun bahawa Musa telah pergi beserta kaumnya. Fir'aun mengeluarkan perintahnya di segenap penjuru kota agar pasukan yang besar berkumpul. Fir'aun menyampaikan alasan yang aneh di balik pengumpulan tentera itu sebagaimana disampaikan oleh Al-Quran:

"Dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita. " (QS. asy-Syu'ara': 55)

Fir'aun telah naik pitam melihat aksi Musa. "Secara peribadi aku telah marah padanya. Jumlah mereka sedikit namun kemarahan kita terhadap mereka sungguh banyak. Kalau demikian, ini adalah peperangan." Fir'aun benar-benar seorang penjahat kelas kakap. Ia tidak berusaha menyembunyikan niatnya di balik kata-kata besarnya. Misalnya, secara diplomasi ia dapat mengatakan bahawa keamanan kerajaan terancam atau sistem ekonomi akan hancur jika para pekerja ini yang digaji dengan sangat murah ini akan keluar. Fir'aun tidak mengatakan semua itu tetapi ia hanya menyatakan bahawa ia sedang emosi. Nabi Musa membuatnya naik pitam dan ini sudah cukup untuk mengeluarkan perintah agar para tentera dikumpulkan. Manusia membenarkan tindakan Fir'aun untuk seribu kalinya setelah membohongkannya. Tiada seorang pun yang menentangnya dan tidak ada seorang pun yang mempersoalkan sebab kenapa di balik pengumpulan tentera itu.

Akhirnya, bergeraklah tentera Fir'aun dengan membawa persenjataan yang lengkap dan mereka berusaha mengejar Nabi Musa. Fir'aun duduk di atas kenderaan perangnya dan mengawasi tentera di sekitamya sambil tersenyum. Barangkali ia membayangkan, jika sejak semula ia melakukan itu maka gerak-geri Musa akan dapat dipatahkannya dan ia dapat membunuhnya. Alhasil, ia sekarang berada di jalan untuk menangkap Musa dan membunuhnya dan menyelesaikan masalah seluruhnya.

Nabi Musa berdiri di depan Laut Merah. Tampak dari kejauhan bahawa debu yang ditebarkan oleh tentera Fir'aun mulai mendekat. Lalu setelah itu tampak panji-panji tentera. Melihat hal itu, kaum Nabi Musa merasakan ketakutan. Mereka menghadapi situasi sangat sulit dan berbahaya: di depan mereka ada laut sementara di belakang mereka ada musuh. Mereka tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk berperang dengan pasukan Fir'aun kerana mereka hanya terdiri dari wanita-wanita, anak-anak kecil, dan orang-orang lelaki yang tidak bersenjata. Fir'aun akan menyembelih mereka semuanya.

Tiba-tiba terdengarlah teriakan dari kaum Nabi Musa: "Fir'aun akan menyusul kita dan menangkap kita." Nabi Musa berusaha menenangkan mereka sambil berkata: "Tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku dan Dia pun akan membimbingiku." Kita tidak mengetahui bagaimana perasaan Nabi Musa saat itu atau apa yang difikirkannya. Yang jelas, ia tidak mendapat kepercayaan seperti ini kecuali setelah Allah s.w.t mewahyukan kepadanya agar ia memukulkan tongkatnya ke lautan itu. Kemudian Nabi Musa pun memukulkan tongkat yang dibawanya kepada lautan itu.

Demikianlah bahawa kehendak Allah s.w.t pasti terlaksana meskipun harus bertentangan dengan logik manusia. Allah s.w.t ingin menunjukkan mukjizat, kemudian Allah s.w.t mewahyukan kepada Musa untuk memukulkan tongkatnya kepada lautan. Pemukulan tongkat terhadap lautan hanya sekadar sebab yang kemudian diikuti dengan terbelahnya lautan. Belum sampai Nabi Musa mengangkat tongkatnya sehingga malaikat Jibril turun ke bumi lalu Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke lautan. Tiba-tiba laut itu terbelah menjadi dua bahagian: satu bahagian menjadi kering kontang di mana di sebelah kanannya terdapat ombak dan di sebelah kirinya juga terdapat ombak. Nabi Musa bersama kaumnya berjalan sehingga mereka dapat melewati lautan. Ini adalah mukjizat yang sangat besar. Ombak bergelombang: meninggi dan menurun sehingga tampak ada tangan tersembunyi yang mencegahnya agar jangan sampai menenggelamkan Nabi Musa atau bahkan membasahinya sekalipun.

Demikianlah Nabi Musa dan kaumnya berhasil melewati lautan. Sementara itu, Fir'aun sampai ke lautan. Ia menyaksikan mukjizat ini. Ia melihat lautan terdapat jalan kering yang terbelah menjadi dua. Fir'aun saat itu merasakan ketakutan tetapi lagi-lagi keras kepalanya dan pembangkangnya tetap menyalakan api peperangan sehingga ia menyuruh pasukannya untuk maju. Ketika Musa selesai menyeberangi lautan, ia menoleh ke lautan dan ia ingin memukulkan dengan tongkatnya sehingga kembali sebagaimana mestinya, tetapi Allah s.w.t mewahyukan kepadanya agar ia membiarkan lautan seperti semula. Seandainya ia memukulkan tongkatnya kepada lautan dan laut itu kembali seperti semula nescaya Nabi Musa akan selamat dan Fir'aun pun akan selamat, sedangkan Allah s.w.t telah berkehendak untuk menenggelamkan Fir'aun. Oleh kerana itu, Musa diperintahkan untuk membiarkan lautan seperti semula. Allah s.w.t mewahyukan kepadanya:

"Dan biarlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentera yang akan ditenggelamkan." (QS. ad-Dukhan: 24)

Fir'aun bersama tenteranya sampai di tengah lautan. Ia sudah melewati separuhnya dan ia akan sampai ke tepi yang lain. Kemudian Allah s.w.t memerintahkan kepada Jibril. Lalu Jibril menggerakkan ombak sehingga ombak itu menerpa Fir'aun dan menenggelamkannya beserta tenteranya. Fir'aun dan tenteranya tenggelam. Pembangkang telah tenggelam sedangkan keimanan kepada Allah s.w.t telah selamat.

Ketika tenggelam, Fir'aun melihat tempatnya di neraka. Kini. ia sedar dan tabir telah terkuak di depannya. Fir'aun telah menjemput sakaratul maut. Ia telah menyedari bahawa Musa adalah seorang yang benar dan ia telah menyia-nyiakan dirinya dengan menentangnya dan berusaha memeranginya. Fir'aun berusaha menunjukkan keimanannya.

"Hingga bila Fir'aun itu hampir tenggelam berkatalah dia: 'Saya percaya bahawa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).'" (QS. Yunus: 90)

Taubat Fir'aun tidak berguna dan tidak diterima; taubat yang justru disampaikan ketika ia menyaksikan azab dan akan memasuki pintu kematian. Jibril berkata kepadanya:

"Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah derhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerosakan." (QS. Yunus: 91)

Yakni, tidak ada taubat bagimu. Sungguh telah selesai waktu taubat bagimu dan engkau telah binasa. Selesailah urusan ini dan tiadalah keselamatan bagimu. Yang selamat hanyalah tubuhmu dan engkau akan dilemparkan oleh ombak ke tepi sehingga tubuhmu sebagai bukti kebesaran Allah s.w.t bagi orang-orang yang hidup sesudahmu:

"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi peringatan bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (QS. Yunus: 92)

Apa yang terjadi pada Fir'aun merupakan sunatullah yang abadi yang terjadi sebagai pelajaran bagi hamba-hamba Allah s.w.t.

Allah s.w.t berfirman:

"Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: 'Kami beriman hepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan- sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.'" (QS. al- Mu'min: 84)

Allah s.w.t menceritakan sikap Fir'aun bersama Musa dalam firman-Nya:

"Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: 'Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), kerana sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli. Kemudian Fir'aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tenteranya) ke kota-kota. (Fir'aun berkata): 'Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil-kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga.' Maka Kami keluarkan Fir'aun dari kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. Maka Fir'aun dan bala tenteranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut- pengikut Musa: 'Sesungguhnya kita benar-benar akan disusul.' Musa menjawab: 'Sekali-kali kita tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.' Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukji- zat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS. asy-Syu'ara': 52-68)

Tersingkaplah kejahatan dan kelaliman Fir'aun. Ombak lautan menggiring tubuhnya ke tepi. Kami tidak mengetahui tepi mana yang dimaksud, yang menggiring tubuh seseorang yang mengaku dirinya sebagai tuhan; seseorang yang tidak ada seorang pun yang berani menentangnya. Diduga kuat bahawa ombak menggiring jasadnya ke tepi barat lalu orang-orang Mesir melihatnya dan mengetahui bahawa tuhan mereka yang mereka sembah, yang mereka taati adalah sekadar seseorang yang tidak mampu menjauhkan kematian dari lehernya.

Setelah itu, orang-orang Mesir mengetahui kebenaran secara sempurna. Al-Quran al-Karim tidak menceritakan kepada kita apa yang mereka perbuat setelah jatuhnya rejim Fir'aun dan setelah tenteranya tenggelam; Al-Quran tidak menceritakan kepada kita bagaimana reaksi mereka setelah Allah s.w.t menghancurkan apa yang diperbuat oleh Fir'aun dan kaumnya dan apa yang mereka bangun; Al-Quran tidak menyinggung semua itu; Al-Quran justru memfokuskan keadaan Musa dan Harun dan bagaimana peristiwa yang dialami Bani Israil bersama kedua nabi itu.

Fir'aun Mesir telah mati. Ia tenggelam di hadapan mata orang-orang Mesir dan Bani Israil. Meskipun ia telah mati, tetapi pengaruhnya tetap membekas pada jiwa orang-orang Mesir dan Bani Israil. Sungguh sangat sulit untuk menghilangkan pengaruh kehinaan yang sekian lama atau sekian tahun tertanam dalam jiwa dan kemudian jiwa itu menjadi mulia. Fir'aun telah menanamkan pada jiwa Bani Israil sesuatu yang akan kita ketahui dari ayat-ayat Al-Quran. Fir'aun telah membiasakan mereka untuk mendapatkan kehinaan. Fir'aun telah menghancurkan jiwa mereka dari dalam. Fir'aun telah merosak suasana rohani mereka yang bersih. Fir'aun telah merosak fitrah mereka sehingga mereka menyeksa Musa dan menyakiti Musa dengan sikap penentangan dan kebodohan.


Mukjizat pembelahan lautan masih segar di fikiran mereka. Pasir-pasir laut yang basah masih membekas dan masih terdapat dalam sandal- sandal Bani Israil ketika mereka lewat di depan kaum yang menyembah berhala. Seharusnya mereka menampakkan kemarahan mereka atas kelaliman terhadap akal, dan mereka memuji kepada Allah s.w.t kerana mereka mendapatkan petunjuk pada jalan keimanan dan kebenaran. Tetapi mereka justru menoleh kepada Musa dan meminta kepadanya agar menjadikan tuhan lain bagi mereka yang dapat mereka sembah seperti orang-orang itu. Mereka merasa cemburu ketika melihat orang-orang yang menyembah berhala itu dan mereka pun menginginkan hal yang sama. Mereka merasakan kerinduan kepada hari-hari syirik yang lalu yang mereka dapati di bawah naungan Fir'aun. Nabi Musa mengetahui betapa bodohnya mereka.

0 komentar:

Posting Komentar