Allah s.w.t berfirman:
"Dan Musa berkata: 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan alam semesta, wajib atasku tidak mengatakannya sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.' Fir'aun menjawab: 'Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.' Dan dia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata: 'Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu.' (Fir'aun berkata): 'Maka apakah yang kamu anjurkan?' Pemuka-pemuka itu menjawab: 'Beritahulah ia dan saudara-saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai.' Dan beberapa ahli sihir telah datang kepada Fir'aun mengatakan: '(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang Fir'aun menjawab: 'Ya dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).'" (QS. al-A'raf: 104-114)
Kemudian datanglah hari yang dijanjikan. Orang-orang berbondong- bondong keluar dari rumah. Mereka membicarakan tentang pertemuan antar Nabi Musa dan Fir'aun. Mereka menuju ke tempat perayaan sejak pagi hari. Tidak ada seorang pun di Mesir yang tidak mengetahui tentang peristiwa itu. Orang-orang begitu gembira ketika para tukang sihir itu datang sebagaimana mereka juga gembira ketika melihat Fir'aun datang, namun keheningan menyelimuti tempat itu ketika Nabi Musa dan Nabi Harun datang. Tempat perayaan itu diadakan di tempat terbuka yang hanya ditutupi oleh payung Fir'aun yang melindungi kepalanya dari terik matahari. Fir'aun berdiri di tengah-tengah tenteranya. Ia memakai emas dan permata. Sementara itu, Nabi Musa berdiri dengan menundukkan kepalanya dalam keadaan mengingat Allah s.w.t.
Keadaan saat itu benar-benar hening. Kemudian para tukang sihir maju menemui Musa. Mereka berkata kepada Musa: "Apakah engkau yang pertama kali melempar atau kami yang pertama kali melempar." Musa berkata: "Kalianlah yang pertama kali melempar." Para tukang sihir berkata: "Demi kemuliaan Fir'aun, sesungguhnya kami akan menang." Musa berkata: "Celaka kalian, janganlah kalian membuat dusta kepada Allah s.w.t nescaya Dia akan mendatangkan seksa bagi kalian." Sebahagian ahli hakikat berkata: "Nabi Musa menoleh dan kemudian ia melihat Jibril di sebelah kanannya." Jibril berkata kepadanya: "Wahai Musa, hendaklah kamu bersikap sopan kepada wali-wali Allah s.w.t." Musa berkata dalam dirinva: "Mereka para tukang sihir itu datang dengan maksud menyimpangkan agama Fir'aun." Jibril kembali berkata: "Bersikap lembutlah terhadap wali-wali Allah s.w.t. Mereka saat ini sampai salat Ashar berada di sisimu dan setelah salat Ashar mereka akan berada di syurga."
Para tukang sihir itu mulai melemparkan tongkat-tongkat mereka dan tali-tali mereka. Tiba-tiba arena itu dipenuhi dengan ular-ular. Mereka menipu dan menyihir pandangan orang-orang yang melihatnya. Orang- orang yang melihat sihir itu merasa takut kerana mereka mendatangkan sihir yang besar. Orang-orang merasa gembira dan Fir'aun pun menampakkan senyumnya. Ia berkata dalam dirinya: Sungguh hari ini adalah hari pembalasan atas Musa. Mukjizatnya berupa tongkat yang ada di tangannya yang dapat berubah menjadi ular, sekarang Fir'aun menghadirkan kepadanya seluruh tukang sihir di mana tongkat-tongkat dan tali-tali yang ada di tangan mereka pun berubah menjadi ular. Senyuman Fir'aun pun semakin melebar.
Nabi Musa memperhatikan tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka. Ia merasa takut. Nabi Musa ingat apa yang dikatakan oleh Jibril dan ia mulai merasakan ketakutan. Bagaimana mungkin para tukang sihir itu akan masuk syurga dan mereka akan menjadi wali-wali Allah s.w.t? Nabi Musa merasakan semua itu, namun tiada seorang pun yang mengetahui hakikat pemikiran yang terlintas dalam benak Nabi Musa saat ia berdiri dengan bajunya yang sederhana bersama saudaranya di hadapan kumpulan manusia yang banyak dari para pengawal dan tentera Fir'aun. Ketika Musa merasakan ketakutan tersebut, maka cahaya yang terang menembus dalam dirinya dan Allah s.w.t berkata kepadanya:
"Kami berkata: 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, nescaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang." (QS.Thaha: 68-69)
Musa merasa senang ketika mendengar Allah s.w.t menenangkannya. Nabi Musa dapat mengendalikan dirinya, kemudian beliau mengangkat tongkatnya dan melemparkannya. Sebelum tongkat itu menyentuh tanah, tiba-tiba terjadilah suatu mukjizat. Orang-orang dan para tukang sihir Fir'aun bahkan Fir'aun sendiri menyaksikan sesuatu yang belum pernah mereka saksikan di dunia. Biasanya seorang tukang sihir dapat menipu pandangan manusia dan memperdaya mereka seolah-olah ada ular yang bergerak padahal ia tetap di tempatnya. Tetapi apa yang terjadi saat itu adalah sesuatu yang benar-benar berbeza. Belum sampai tongkat Nabi Musa menyentuh tanah sehingga ia berubah menjadi ular yang besar dan sangat gesit.
Tiba-tiba ular ini menuju ke tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka yang bergerak dan ia mulai memakannya satu persatu. Tongkat Nabi Musa memakan tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka dengan cepat. Belum berselang beberapa minit sehingga arena itu kosong dari tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka. Tongkat-tongkat dan tali-tali tukang sihir tersembunyi dalam perut tongkat Nabi Musa. Dan bergeraklah ular yang besar menuju Nabi Musa lalu beliau menghulurkan tangannya dan tiba-tiba ular itu berubah menjadi tongkat. Para tukang sihir mengetahui bahawa mereka bukan di hadapan seorang penyihir. Mereka sebenamya adalah tokoh-tokoh sihir dan para pakar dalam hal itu di zaman mereka, tetapi apa yang mereka saksikan saat ini bukan termasuk sihir. Itu adalah mukjizat dari Allah s.w.t.
Akhirnya, para tukang sihir itu sujud di atas tanah. Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan Pengatur alam semesta. Tuhan yang diyakini oleh Musa dan Harun." Orang-orang Mesir dan anak-anak Bani Israil menyaksikan mukjizat yang mengagumkan ini. Mereka melihat bagaimana tukang sihir-tukang sihir Fir'aun sujud kepada Musa dan Harun. Fir'aun menyaksikan bahawa bola itu kini berada di tangan Musa dan Harun. Lalu ia bangkit dari duduknya dan berteriak di depan tukang sihir: "Bagaimana kalian beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepada kalian." Para tukang sihir berkata: "Untuk beriman tidak perlu izin." Fir'aun berkata: "Kalau begitu ini adalah persekongkolan yang jelas. Sesungguhnya Musa adalah guru kalian yang mengajari kalian sihir. Sungguh tangan-tangan kalian dan kaki-kaki kalian akan diputus dan kalian akan disalib di pohon kurma. Sungguh ini adalah persekongkolan yang jelas."
Para tukang sihir berkata: "Lakukan apa saja yang engkau inginkan, hai Fir'aun. Kami tidak memilihmu dan kami tidak mengutamakanmu atas mukjizat Ilahi ini. Sesungguhnya kami beriman kepada Tuhan kami agar Dia mengampuni kami dan menghapus kesalahan-kesalahan kami. Apa yang engkau berikan terhadap kami adalah sesuatu yang sedikit, dan apa yang ada di sisi Allah s.w.t lebih baik dan lebih abadi. Seandainya engkau menyeksa kami dan membunuh kami dan menyalib kami, maka engkau hanya dapat menyeksa kami di kehidupan dunia ini. Tentu kehidupan dunia tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Kami hanya ingin mendapatkan pengampunan dari Allah s.w.t dan memasuki syurga." Kemudian Fir'aun mengeluarkan perintahnya untuk menyalib semua tukang sihir. Ketika menyaksikan peristiwa tersebut, orang-orang menjadi ketakutan. Kemudian Nabi Musa dan Nabi Harun meninggalkan tempat itu dan Fir'aun kembali ke istananya. Allah s.w.t menceritakan dalam surah al-A'raf apa yang dialami tukang sihir dan Musa dalam firman-Nya:
"Ahli-ahli sihir berkata: 'Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?' Musa menjawab: 'Lemparkanlah (lebih dahulu)! Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan). Dan Kami mewahyukan kepada Musa: 'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekoyong-koyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. kerana itu nyatalah yang benar dan gagallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata: 'Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (Yaitu) Tuhan Musa dan Harun. Fir'aun berkata: 'Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?' Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya darinya; maka kelah kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh- sungguh aku akan menyalib kamu semuanya. Ahli-ahli sihir itu menjawab: 'Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu tidak membalas dendam dengan menyeksa kami, melainkan kerana kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.' (Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).'" (QS. al-A"raf: 115-126)
Para tukang sihir Mesir berubah menjadi Muslim dan mempercayai ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa. Mereka beriman kepada Allah s.w.t. Akhirnya, mereka dinaikkan di batang-batang pohon kurma untuk disalib dan dipotong tangan-tangan mereka dan kaki-kaki mereka. Mereka meminta kepada Allah s.w.t agar mereka dimatikan sebagai orang-orang Muslim.
Kemudian Musa memahami apa yang diucapkan oleh Jibril as: Mereka sejak saat ini sampai salat Ashar di sisimu dan setelahnya mereka berada di syurga. Ketika memasuki waktu Ashar tubuh para tukang sihir itu berlumuran darah. Mereka disalib oleh para tentera Fir'aun. Fir'aun menghadapi masalah baru. Fir'aun mengadakan serangkaian pertemuan- pertemuan penting di istananya. Fir'aun memanggil penanggung jawab tentera dan pasukan. Fir'aun juga memanggil apa saat ini dinamakan dengan kepala intelejen. Bahkan Fir'aun juga memanggil para menteri dan para penjabat serta tukang-tukang dukun. Jadi, Fir'aun memanggil semua yang mempunyai kekuatan untuk mengubah jarum sejarah.
Fir'aun bertanya kepada kepala intelejennya: "Apa yang dikatakan orang- orang?" Ia berkata: "Anak buahku telah kusebar di antara khalayak dan mereka mendapat informasi bahawa Musa dapat memenangkan perlumbaan itu kerana ia berhasil membikin suatu konspirasi bersama para tukang sihir." Kemudian Fir'aun bertanya kepada salah seorang ketua keamanan: "Apa yang terjadi pada jasad-jasad tukang sihir?" Ia berkata: "Anak buahku menggantunginya di tempat umum dan di pasar-pasar untuk menakuti manusia dan kami sebarkan berita bahawa Fir'aun akan membunuh setiap orang yang memiliki persekongkolan." Lalu Fir'aun bertanya kepada komandan pasukan: "Apa yang dikatakan oleh pasukan?" Ia menjawab: "Mereka menginginkan agar mendapatkan perintah untuk bergerak di tempat mana pun yang ditentukan oleh Fir'aun." Fir'aun berkata: "Belum datang giliran pasukan maka akan datang gilirannya."
Fir'aun kemudian terdiam. Lalu Haman salah seorang ketua para menteri bergerak dan mengangkat tangannya dan ia mulai meminta untuk berbicara, dan Fir'aun mengizinkan kepadanya. Haman berkata: "Apakah kita akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerosakan di muka bumi dan mereka mengalihkan ibadah kepada selainmu?" Fir'aun berkata: "Sungguh engkau dapat membaca fikiranku wahai Haman. Kita akan membunuh anak-anak mereka dan akan mempermalukan perempuan-perempuan mereka. Aku memiliki kekuasaan di atas mereka."
Pasukan Fir'aun pergi untuk membunuh anak-anak laki dari Bani Israil dan menodai kehormatan wanita-wanita mereka, serta memenjarakan siapa pun yang menentang. Musa berdiri menyaksikan apa yang terjadi tanpa mampu turut campur dan tanpa mampu mencegahnya. Yang beliau lakukan hanya memerintahkan kaumnya untuk bersabar. Beliau memerintahkan mereka untuk meminta pertolongan kepada Allah s.w.t dan bersabar atas segala ujian. Beliau menjadikan para tukang sihir sebagai teladan bagi mereka di mana tukang sihir Mesir itu mampu menahan derita di jalan Allah s.w.t tanpa berkeluh kesah. Nabi Musa memberitahu mereka bahawa tentera-tentera Fir'aun berbuat aniaya di muka bumi yang seakan-akan bumi adalah milik khusus mereka. Sebenarnya Allah s.w.t akan mewariskan bumi kepada orang-orang yang bertakwa.
Kemudian intimidasi yang dilakukan Fir'aun sangat mempengaruhi jiwa Bani Israil sehingga mereka merasakan kekalahan dan pesimis. Mereka berkata kepada Musa: "Wahai Musa kami sangat menderita sebelum kedatanganmu dan sesudah kedatanganmu, anak-anak dibunuh sebelum kedatanganmu dan sesudah kedatanganmu." Seakan-akan mereka berkata kepada Musa bahawa keberadaanmu tidak memberikan manfaat sedikit pun. Kami tetap merasakan kesendirian. Musa menolak kebodohan mereka ini. Ia memberitahu mereka bahawa Allah s.w.t akan menghancurkan musuh-musuh mereka, kemudian Allah s.w.t akan menjadikan bumi dikuasai oleh mereka. Tetapi lagi-lagi mereka tetap mengadu kepada Musa dan tampak bahawa mereka tidak kuat lagi menahan penderitaan yang mereka alami.
Musa menghadapi keadaan yang sulit. Beliau berusaha melawan kemarahan Fir'aun dan konspirasinya. Pada saat yang sama, Nabi Musa mendengar keluhan kaumnya. Di tengah-tengah keadaan yang demikian, Qarun bergerak. Qarun adalah seorang putera Bani Israil. Ia berasal dari kaum Musa tetapi ia justru menentang Musa. Kekayaannya dan status sosialnya menjadikannya lebih dekat kepada rejim Fir'aun. Allah s.w.t menceritakan kepada kita tentang kekayaan Qarun. Allah s.w.t berkata kepada kita bahawa kunci-kunci kamar yang menyimpan kekayaannya sangat sulit dipikul oleh sekelompok laki-laki yang kuat sekalipun. Seandainya kita ingin mengetahui kunci-kunci kekayaan ini yang sedemikian rupa, maka kita dapat membayangkan kekayaan itu sendiri. Qarun memiliki berbagai macam kekayaan dan dalam jumlah yang banyak. Bahkan saking kayanya, pelana kudanya terbuat dari kulit yang dihiasi oleh perak dan emas.
Jika Qarun keluar dengan membawa pesona dunia yang diikuti oleh rombongannya dan disinari oleh matahari, maka emas-emas yang dibawanya tampak menyala di bawah sengatan matahari. Pemandangan demikian sangat mengagumkan bagi orang-orang yang mencintai dunia. Kekayaan yang dimiliki Qarun membuatnya bersikap angkuh sehingga tidak mudah baginya untuk menerima nasihat. Tampak bahawa kekayaannya dan kesombongannya membuatnya merasa bergembira, sehingga tertawanya Qarun menjadi tertawa yang paling terkenal di kalangan Bani Israil, dan kebenarannya menyaingi kebenaran Fir'aun dan Haman. Kedua orang itu (Fir'aun dan Haman) menguasai Mesir secara keseluruhan, sedangkan Qarun hanya mengusai sebahagian dari Mesir.
Orang-orang yang berakal dari kaumnya menasihatinya agar ia berfikir sejenak tentang akhiratnya, dan barangkali mereka berkata kepadanya: "Sesungguhnya tak seorang pun menasihatimu untuk meninggalkan dunia secara keseluruhan dan menempuh jalan orang-orang yang zuhud tetapi mereka menasihatimu agar engkau tidak melupakan bahagianmu dari dunia. Sebagaimana mereka menasihatimu agar jangan sampai engkau melupakan bahagianmu dari akhirat."
Qarun hanya merasa puas dengan bahagiannya dari dunia. Imaginasi akalnya mengatakan bahawa kekayaan ini datang kerana usaha kerasnya sebagaimana ia menduga kekayaannya adalah tanda bahawa Allah mencintainya. Bahkan ia mengira bahawa ia lebih utama dan lebih mulia dari Musa. Musa adalah seorang yang fakir sedangkan Qarun adalah seorang yang kaya, maka bagaimana seorang yang fakir yang tidak memakai satu pun gelang dari emas dapat memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Allah dibandingkan dengan seorang yang kaya yang mampu membuat pelana kudanya dari emas. Demikianlah pandangan Qarun dan Fir'aun terhadap Musa.
Allah s.w.t berfirman:
"Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?" (QS. az-Zukhruf: 52)
Demikianlah pernyataan Fir'aun kepada Musa. Terdapat kesesuaian antara pendapat Fir'aun dan Qarun terhadap Musa. Sesuai dengan kedudukan sosial dan kekayaannya, Qarun menjadi sahabat Fir'aun dan mendukung rejim kekuasaannya. Bukan hanya Qarun, Fir'aun dan Haman yang menjadi tawanan khayalan ini, bahkan kaum Fir'aun pun memiliki pendapat yang sama. Yakni, bagi orang-orang Mesir, Musa hanya sekadar seorang tukang sihir yang mengalahkan jaguh-jaguh sihir lainnya. Namun ini tidak bererti bahawa masyarakat Mesir tidak memiliki keutamaan sedikit pun. Di tengah-tengah masyarakat Mesir masih terdapat orang yang beriman kepada Nabi Musa namun ia menyembunyikan keimanannya kerana khuatir terhadap kejahatan Fir'aun.
Di sana juga ada orang yang bertanya-tanya dengan kebodohan: Jika Allah s.w.t memang mencintai Musa lalu mengapa ia dijadikan seorang yang fakir. Qarun menjadi fitnah atau cubaan di tengah-tengah kaumnya dan juga bagi orang-orang Mesir. Ketika Qarun keluar dengan membawa pesona dunianya maka orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata:
"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: 'Moga- moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. al-Qashash: 79)
Sedangkan orang-orang yang berakal sehat - biarpun jumlah mereka sedikit - mereka memandang bahawa kekayaan Qarun yang begitu luar biasa tidak bererti sedikit pun di sisi Allah s.w.t. Allah s.w.t tidak memandang kekayaan yang banyak jika jiwa manusia menjadi gelap kerananya. Di tengah-tengah keadaan yang demikian sulit, Nabi Musa menghadapi Qarun yang menentangnya. Musa sebagai seorang Nabi mesti menunjukkan sikap yang baik dan kesucian yang agung. Tampaknya Qarun sepakat dengan Fir'aun untuk berusaha menjatuhkan Musa di depan pengikutnya dengan tuduhan yang berlawanan dengan kesuciannya.
Akhirnya, pada suatu hari Nabi Musa dikejutkan dengan suatu tuduhan di mana ada seorang wanita yang menuduhnya berbuat tidak senonoh kepadanya dan mengatakan bahawa Musa pernah tidur bersamanya kelmarin. Kami kira Nabi Musa sangat kaget dengan tuduhan ini dan beliau tidak mengetahui apa yang dikatakannya atau bagaimana beliau membela dirinya menghadapi tuduhan seperti itu. Kemungkinan besar beliau salat dan menghadap Allah s.w.t. Kemudian beliau menemui wanita itu dan bertanya, mengapa ia menuduhkan padanya sesuatu yang tidak benar. Tiba-tiba wanita itu menangis dan meminta ampun kepada Musa. Ia memberitahu Musa bahawa Qarun memberinya wang sebagai imbalan atas fitnah yang ditebarkannya terhadap Musa. Mendengar itu, Musa mendoakan buruk buat Qarun. Kemudian Allah s.w.t berkehendak untuk mendatangkan mukjizat di saat yang tepat yang menjelaskan kepada manusia bahawa Dia Maha kuasa, Maha kuat, dan Maha Perkasa, dan bahawa harta hanya sebahagian ujian dan fitnah, bukan sebagai suatu keutamaan yang dengannya manusia dapat dinilai.
Mukjizat yang Allah s.w.t turunkan adalah membinasakan Qarun dan menenggelamkan rumahnya dan hartanya. Qarun keluar untuk menemui kaumnya dengan menampakkan pesona dunianya. Lalu bumi terbelah di bawah kakinya dan Qarun pun tersungkur di bumi. Kami tidak mengetahui apakah itu gempa yang pertama kali terjadi atau itu adalah gempa yang Allah s.w.t perintahkan kepada bumi untuk terjadi. Yang kita ketahui adalah bahawa bumi terbelah dan ia menelan Qarun. Bumi menenggelamkan istana-istana Qarun, hewan-hewan ternaknya, emasnya, peraknya dan semua kekayaannya serta orang dekatnya.
Sebahagian dongeng mengatakan bahawa itu terjadi di Fuyum, dan danau Qarun adalah yang dikenal orang-orang Mesir dengan nama ini. Ia adalah tempat yang dihuni oleh Qarun dan menjadi tempat istananya dan tempat menyimpan hartanya. Alhasil, Al-Quran al-Karim tidak menentukan tempat datangnya azab ini dan tidak juga menyebut kapan itu terjadi. Al-Quran hanya menceritakan apa yang terjadi. Tentu penentuan tempat dan waktu bukan sesuatu yang penting tetapi yang penting adalah pelajaran yang terjadi itu.
Allah s.w.t berfirman dalam surah al-Qhashash:
"Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: 'Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.' Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerosakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerosakan. Qarun berkata: 'Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, kerana ilmu yang ada padaku.' Dan apakah ia tidak mengetahui, bahawasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidakkah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: 'Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali orang- orang yang sabar.' Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang- orang (yang dapat) membela (dirinya). Dan jadilah orang-orang yang kelmarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu, berkata: "Aduhai benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan kurnia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah).' Negeri akhirat itu. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerosakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. " (QS. al-Qashash: 76-83)
Orang-orang dahulu banyak membicarakan ilmu ini yang Qarun mengklaim bahawa ia diberi ilmu itu. Sebahagian mereka mengatakan bahawa itu adalah ilmu kimia yang dengannya Qarun mampu mengubah tembaga menjadi emas. Sebahagian lagi mereka mengatakan bahawa Qarun mengetahui ismullah al-A'zham (nama Allah yang agung) lalu ia menggunakannya untuk mengubah bahan-bahan itu menjadi emas. Tetapi orang-orang yang berakal dari kalangan orang-orang dahulu membantah hal itu. Menurut mereka, Qarun tidak mengetahui ismullah al-A'zham. Qarun adalah seorang munafik. Mereka juga tidak percaya bahawa Qarun dapat membuat racikan kimia.
Kami kira, ini semua adalah dongengan semata yang tidak layak untuk menjelaskan sebab-sebab kekayaannya. Menurut hemat kami, Qarun adalah seorang yang lalim di mana ia melakukan pekerjaan yang tidak sehat. Dan boleh jadi ia memanfaatkan persahabatan dengan Fir'aun untuk mendapatkan fasiliti-fasiliti dari Fir'aun. Dan kerana persahabatan itu, ia berani menentang Musa. Qarun melakukan kejahatan di sana-sini dan kerananya ia mengatakan bahawa harta yang diperolehnya adalah hasil dari kerja kerasnya dan ilmunya. Qarun telah membuat kebohongan dan kelaliman dan ia mendapatkan kekayaan dengan cara-cara yang tidak sehat.
Penyimpangan dari keimanan kepada Allah s.w.t meskipun sehujung rambut pada akhirnya menyeret manusia kepada sikap kesombongan. Manusia itu akan menentang kebenaran dan ia tidak mampu lagi mengikuti kebenaran sehingga pada gilirannya sesuatu yang bohong pun akan menjadi laksana sesuatu yang realistik dan tidak perlu lagi dipersoalkan. Belum lama Qarun mendapatkan seksa sehingga orang- orang mukmin yang mengikuti Nabi Musa merasakan kelapangan yang sebelumnya mereka merasa tertindas. Orang-orang Mesir dan anak-anak Israil menyaksikan mukjizat ini.
Akhirnya, pertentangan antara Fir'aun dan Nabi Musa mencapai puncaknya. Fir'aun meyakini bahawa Musa sangat mengancam kekuasaannya. Musa - sebagaimana nabi-nabi yang lain - membawa ajarannya dengan penuh kelembutan tetapi ketika ia berhadapan dengan puncak kejahatan dan sumber-sumber yang lalim maka ia tidak segan- segan untuk menghancurkannya. Nabi Musa menantang sumber kejahatan di zamannya, yaitu Fira'un. Kemudian Fir'aun melontarkan ide untuk membunuh Musa. Fir'aun mengira bahawa membunuh Musa adalah cara satu-satunya untuk menyelesaikan masalahnya:
"Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, kerana sesungguhnya aku khuatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerosakan di muka bumi.'" (QS. al-Mu'min: 26)
Kita perhatikan bahawa Fir'aun berusaha untuk mencegah orang-orang yang menuju kebenaran; Fir'aun berusaha memberhentikan tugas para nabi; ia berusaha menyesatkan manusia dengan mengatakan bahawa justru Musa yang ingin menyesatkan mereka; ia mengusulkan kepada para menterinya dan para pembesarnya untuk membiarkannya membunuh Musa. Tentu ia tidak membunuh Musa dengan tangannya sendiri tetapi ia hanya sekadar melontarkan fikiran untuk membunuhnya di depan mereka dan yang melaksanakan hal tersebut adalah para pejabat istana. Kami kira Haman sangat berperan dalam pelaksanaan ide ini. Kemudian terbentuklah kelompok orang-orang munafik yang mendukung ide Fir'aun ini.
Ide tersebut hampir segera dibenarkan kalau tidak ada seorang dari keluarga Fir'aun. Ia adalah seorang lelaki dari kalangan pejabat negara yang terpandang. Al-Quran tidak menyebutkan namanya kerana namanya tidak begitu penting dan begitu juga ia tidak menyebutkan sifatnya kerana sifatnya tidak begitu penting. Al-Quran hanya menceritakan keadaan lelaki ini yang menyembunyikan keimanannya. Ia berbicara di tengah-tengah perkumpulan yang di situ disampaikan ide untuk membunuh Musa. Kemudian ia menghentikan ide gila itu dan berusaha meruntuhkan ide itu. Ia berkata bahawa Musa hanya mengatakan bahawa Allah s.w.t adalah Tuhannya, lalu untuk mendukung penyataannya itu ia membekali dirinya dengan bukti-bukti yang jelas yang menunjukkan bahawa ia benar-benar seorang rasul. Kemudian ada dua kemungkinan dan tidak ada kemungkinan ketiga: pertama bahawa Musa adalah seorang pembohong, kedua ia seorang yang benar. Jika ia seorang pembohong maka kebohongannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri dan ia tidak melakukan sesuatu yang kerananya ia harus dibunuh. Namun jika ia benar lalu kita membunuhnya maka gerangan apa yang akan menjamin kita dari keselamatan terhadap azab yang dijanjikannya? Seorang mukmin yang menyembunyikan keimanannya itu berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya hari ini kita berada di tempat-tempat kekuatan sebagaimana yang dialami oleh Qarun di mana ia memiliki kekayaan dan kekuatan kemudian terjadilah apa yang terjadi padanya. Siapakah yang akan menyelamatkan kita dari azab Allah s.w.t ketika datang? Siapakah yang dapat menolong kita dari seksaan-Nya jika menimpa kita? Tindakan melampaui batas kita dan usaha kita untuk membohongkan kebenaran telah membuat kita rugi."
Perkataan lelaki mukmin itu memuaskan para hadirin. Orang lelaki itu adalah seseorang yang tidak begitu menampakkan loyalitinya kepada Fir'aun. Ia bukan dari kalangan pengikut Musa. Tampaknya ia berbicara dengan motivasi untuk mempertahankan kekuasaan Fir'aun, dan menurutnya tidak ada sesuatu yang dapat menjatuhkan kekuasaan Fir'aun seperti kebohongan dan tindakan yang melampaui batas dan membunuh jiwa-jiwa yang tidak berdosa.
Dari sinilah kata-kata lelaki mukmin itu memancarkan kekuatannya yang cukup mempengaruhi Fir'aun, para menterinya, dan anak buahnya. Meskipun ide Fir'aun untuk membunuh Musa digagalkan oleh lelaki mukmin itu, namun Fir'aun mengatakan kata-kata bersejarahnya yang kemudian menjadi contoh dari sikap orang-orang yang lalim:
"Fir'aun berkata: Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.'" (QS. al-Mu'min: 29)
Demikianlah pernyataan para penguasa yang lalim ketika mereka menghadapi masyarakat mereka. Aku tidak melihat pendapatku kecuali sesuai dengan apa yang aku pertimbangkan. Ini adalah pendapat kami yang khusus. Ia merupakan pendapat yang membimbing kalian menuju jalan petunjuk, sedangkan pendapat lainnya salah. Oleh kerana itu, kita harus tetap melawannya dan membinasakannya. Allah s.w.t menceritakan sikap demikian ini dalam surah Ghafir:
"Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata: 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki kerana dia menyatakan: 'Tuhanku ialah Allah,' padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar nescaya sebahagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata): 'Hai kaumku, untukmu lah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!' Fir'aun berkata: 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa saja yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.'" (QS. al-Mu'min 28-29)
Perdebatan tersebut tidak berhenti pada batas ini. Fir'aun mengutarakan kata-katanya tetapi seorang mukmin itu tetap tidak puas dengannya, kemudian lelaki mukmin itu kembali berbicara:
"Dan orang yang beriman itu berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khuatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak akan menghendaki berbuat kelaliman terhadap hamba-hamba-Nya. Hai kaumku, sesungguhnya aku khuatir terhadapmu akan seksaan hari panggil-memanggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan dirimu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, nescaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan- keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: 'Allah tidak akan mengirimkan seorang (rasul pun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang." (QS. al-Mu'min: 30-35)
Kita perhatikan dalam pembicaraan tersebut terdapat perbezaan dengan pembicaraan sebelumnya. Lelaki mukmin itu berusaha menguraikan pada pembicaraan akhirnya tentang bukti-bukti sejarah. Ia menyampaikan kepada Firaun dan kaumnya argumentasi-argumentasi yang cukup untuk menunjukkan kebenaran Musa. Ia memperingatkan mereka agar jangan sampai mengganggu Musa. Sebelum masa mereka, terdapat umat-umat yang menentang rasul-rasul yang dikirim oleh Allah s.w.t, lalu Allah s.w.t menghancurkan mereka. Mereka adalah kaum Nuh, kaum 'Ad, dan kaum Tsamud. Zaman mereka tidak terlalu jauh dengan zaman sekarang.
Sejarah Mesir menunjukkan bukti kebenaran ucapannya di mana Nabi Yusuf datang dengan membawa bukti yang jelas kemudian terdapat orang-orang yang merugikan dakwahnya lalu mereka beriman padanya setelah keselamatan hampir saja tercabut dari mereka. Lalu apa keanehan di balik pengutusan para rasul dari Allah s.w.t? Sejarah masa lalu harus menjadi bahan renungan. Bukankah kelompok minoriti orang- orang mukmin memperoleh kemenangan ketika mereka benar-benar beriman atas kelompok majoriti yang kafir? Bukankah Allah s.w.t telah menghancurkan orang- orang kafir? Allah s.w.t menenggelamkan mereka dengan taufan dan Allah s.w.t menghancurkan mereka dengan kilat atau Allah s.w.t menenggelamkan mereka dalam bumi. Apa yang kita tunggu sekarang dan dari mana kita tahu bahawa usaha kita membela Fir'aun mati-matian akan membawa keuntungan bagi kita semua?
Pembicaraan lelaki mukmin yang intelektual itu mengandung beberapa peringatan yang mengerikan. Tampaknya ia berhasil memuaskan para hadirin bahawa ide membunuh Musa adalah ide yang tidak aman. Atau dengan kata lain, itu adalah ide yang tidak menjamin keselamatan mereka. Oleh kerana itu, ide tersebut hendaklah ditinggalkan. Setelah itu, lelaki mukmin itu berusaha untuk menunjukkan kepada mereka kebenaran yang dibawa oleh Musa. Ia yang semula menggunakan bahasa isyarat, kini berusaha untuk menggunakan bahasa yang terang dan gamblang. Ia telah berani menampakkan kebenaran:
0 komentar:
Posting Komentar